http://wadi.co.id

Mihrab Ceruk Penanda Kiblat PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh husin   
Selasa, 26 Pebruari 2008

Selasa, 26 Februari 2008
Mihrab Ceruk Penanda Kiblat
Mihrab adalah sebuah inovasi awal arsitektur Islam khususnya arsitektur masjid. Mihrab pertama kali mewarnai khazanah arsitektur masjid mulai tahun 88 Hijriyah atau 708 Masehi.


Mihrab. Inilah bagian pokok - jika tidak yang  terpenting - yang selalu hadir dalam arsitektur sebuah masjid. Merriam- Webster mendefinisikan mihrab sebagai sebuah ceruk yang menjorok ke dalam atau ruangan di dalam masjid yang menjadi penanda arab kiblat. Tak hanya sebagai penanda arah kiblat, mihrab juga berfungsi sebagai tempat imam memimpin shalat.

Secara harfiah, menurut Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve (IBVH), kata mihrab berarti gedung yang tinggi. Sebagian ulama berpendapat mihrab sebagai tempat memerangi setan dan hawa nafsu. Menurut mereka, mihrab berakar dari kata al-hurba yang berarti peperangan.

Ada pula pendapat yang menyatakan, ceruk atau ruangan dalam masjid itu dinamakan mihrab, karena dalam tempat itu kebenaran manusia dapat ditempa dalam upaya menghindarkan diri dari kesibukan duniawi. Namun, Dr Muhammad Taqi-ud-Din Al-Hilali dan Dr Muhammad Muhsin Khan memiliki definisi dalam soal mihrab.

Dalam cetakan Alquran King Fahd Complex, Saudi Arabia, keduanya mendefinisikan mihrab sebagai tempat shalat kecil atau ruang privasi, bukan arah atau penunjuk tempat shalat apalagi tempat imam memimpin shalat. Selain memiliki beragam pengertian, kehadiran bagian interior masjid itu pun tak seutuhnya disepakati umat Islam. Ada yang memperbolehkan dan ada pula yang melarang kehadiran mihrab di dalam masjid, karena tak pernah dicontohkan Rasulullah SAW.

Itulah mengapa, sebagai bagian dari arsitektur masjid, kehadiran mihrab selalu menarik untuk diperbincangkan dan diperdebatkan. Lalu bagaimana asal-muasal mihrab bisa menjadi bagian interior yang amat penting dalam arsitektur masjid?

Menurut Ibrahim Rafa’at Pasya —salah seorang pemikir Arab di abad ke-19 — eksistensi mihrab belum dikenal pada masa Rasulullah SAW.

Pendapat itu diperkuat Ahli sejarah Islam As-Suyuti dalam bukunya I’la al- Adib bi Hudusi Bid’ah Al-Maharib. As- Suyuti menyatakan, mihrab dengan atap melengkung belum ada pada masa Rasulullah SAW. Tak hanya itu, pada era al-Khulafa ar-Rasyidin pun belum dikenal adanya mihrab.

Secara tegas, Al-Qaradhawi menyatakan, tak ada sunnah qauliah (ucapan), sunnah amaliah (perbuatan), dan sunnah taqririyah (persetujuan) dari Rasulullah SAW tentang mihrab. Meski begitu, kata mihrab, muncul sebanyak lima kali dalam Alquran — empat kali dalam bentuk tunggal dan satu dalam bentuk jamak. Dalam surat Ali `Imran, kata mihrab disebutkan sebanyak dua kali, yakni pada ayat 37 dan 39, pada surat Maryam ayat 11, surat Sad ayat 21 dan surat Saba ayat 13.

‘’Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: ‘’Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’’

Maryam menjawab: ‘’Makanan itu dari sisi Allah.’’ Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (Ali `Imran: 37)

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): ‘’Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat {193} (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.’’ (Ali ‘Imran:39).

Kedua ayat itu digunakan sebagian umat Islam sebagai dalil digunakannya mihrab dalam masjid. Dalam Tafsir Ibnu Katsir jilid dua disebutkan, yang dimaksud mihrab dalam ayat 37 dan 39 itu surat Ali Imran itu adalah tempat tertutup yang digunakan Maryam dan Zakariya berdiam diri untuk beribadah, menyendiri dan bermunajat kepada Allah SWT.

Menurut Ensiklopedia Islam, disebutkannya kata mihrab sebanyak lima kali dalam Alquran menunjukkan bahwa mihrab telah dikenal dalam sejarah nabi-nabi sebelum kenabian Muhammad SAW. Ahli hukum Islam dari Baghdad, taiyib at-Tabari menyatakan, mihrab merupakan tradisi Islam yang dimulai sejak Nabi Daud As.

Lalu kapan umat Islam mulai menggunakan mihrab pada interior masjid? Mihrab ternyata adalah sebuah inovasi awal arsitektur Islam khususnya arsitektur masjid. Mihrab pertama kali mewarnai khazanah arsitektur masjid mulai tahun 88 Hijriyah atau 708 Masehi. Kali pertama, mihrab dibuat di dalam Masjid Nabawi oleh Umar bin Abdul Aziz, saat menjabat Gubernur Madinah Munawarrah, pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik.

Pada masa jabatannya itu, Umar bin Abdul Aziz (708-711 M) memerintahkan untuk membangun kembali Masjid Nabawi. Konon, dalam proyek pemugaran dan perluasan Masjid Nawabi itulah pertama kali mihrab dibangun.

Pembangunan Masjid Nabawi pun selesai pada tahun 91 Hijriyah atau 711 Masehi. Saat itu mihrab dibuat berbentuk ceruk pada dinding dan berfungsi sebagai penanda arah kiblat. Meski begitu, ada pula yang menyebutkan bahwa bentuk ceruk yang dimaksud pada masa itu sesungguhnya memiliki istilah thooq, bukan mihrab.

Menurut sejarawan Arab, Al-Maqrizi, pembangunan mihrab juga berlangsung pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Malah, pada masa itu, Mu’awiyah telah membuat peraturan bahwa bangunan mihrab harus ada di dalam masjid. Pada masa kepemimpinan Mu’awiyah, seorang gubernur bernama Qurra’ Bin Syarik telah memerintahkan pembuatan mihrab di Mesir dengan bentuk atap yang melengkung.

Dalam perkembangannya, Dinasti Fatimiyah di Mesir mulai menghiasi mihrab dengan gelang-gelang perak. Tak heran bila di Masjid Al-Azhar, Mesir dihiasi beragam ornamen yang nilainya mencapai lima ribu dirham. Pada masa pemerintah Umayyah ada yang menyebut mihrab sebagai tempat penting, sehingga posisinya ditinggikan melebihi tempat sembahyang makmum.

Itu berbeda dengan mihrab yang ada di masjid-masjid Iran. Di negeri para Mullah itu, posisi mihrab justru lebih bawah dari makmum. Meski terdapat beragam pendapat dan bentuk mihrab dalam dunia Islam, mihrab memiliki dimensi sosial budaya, yang paling bisa ditonjolkan secara visual.

Wujud fisik mihrab memiliki peran sebagai media pengungkapan nilainilai atau budaya dari individu pelaku atau perancangnya atau merupakan refleksi masyarakat Muslim di sekitarnya.

Pro dan Kontra Mihrab

Mihrab merupakan bagian penting yang selalu hadir dalam ruangan masjid dan mushala. Meski begitu, ternyata umat Islam tak `satu kata’. Ada dua pendapat mengenai kehadiran mihrab dalam masjid. Pendapat pertama membolehkan dan pendapat kedua menilai kehadiran mihrab sebagai praktik bid’ah. Keduanya memiliki dalil.

Adalah para ulama Hanifiah yang mendukung dan membolehkan hadirnya mihrab. Mereka memperbolehkan bagian dalam masjid dilengkapi dengan mihrab, apapun bentuknya. Bagi penganut mazhab Hanifiah, mihrab yang berupa cekungan, lubang yang tak tembus (misykat) ataukah ruang imam, tak menjadi masalah.

Pendapat yang pro dengan kehadiran mihrab dalam masjid merujuk pada hadits berikut ini: Dari Wa’il bin Hujr RA berkata: ‘’Aku menyaksikan Rasulullah SAW ketika bangkit menuju masjid, beliau masuk ke mihrab. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sambil bertakbir. Kemudian meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dadanya.’’ (HR Baihaqi)

Namun, hadits itu dinilai dhaif oleh pendapat yang tak setuju dengan adanya mihrab di dalam masjid. Sebagian ulama memiliki pendapat lain soal hadits yang dijadikan pegangan kalangan yang memperbolehkan mihrab, karena pada zaman Rasulullah SAW belum ada mihrab melainkan sutrah. Mereka lebih mengartikan kata mihrab dalam hadits itu sama dengan kata mushalla (tempat shalat), seperti istilah mihrab dalam Alqur’an.

Umat Islam yang berpendapat mihrab sebagai praktik bid’ah juga memiliki dalil sebagai pegangan. Berikut ini adalah haditsnya: Dari Musa Al Juhani berkata, Rasulullah SAW bersabda: ‘’Umatku ini selalu berada di dalam kebaikan selama mereka tidak menjadikan di dalam masjid-masjid mereka seperti mihrab-mihrabnya orang-orang kristen.’’ (HR. Ibnu Abi Syaibah di dalam Al Mushannaf).

Pihak yang kontra mihrab juga berpendapat bahwa apabila telah ada mimbar, maka mihrab tidak perlu ada. Menurut mereka cukup dengan mimbar saja yang menjadi petunjuk arah kiblat tempat shalat. Kalangan Hanafiah juga menilai hadis yang dijadikan rujukan umat Islam yang tak membolehkan kehadiran mihrab itu dhaif.


6 Mihrab di Masjid Nabawi

Masjid Nabawi dibangun Rasulullah SAW sekitar tahun 622 M, setelah beliau hijrah dari Makkah. Masjid yang terletak di kota Madinah itu merupakan salah satu mesjid yang utama bagi umat Muslim setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjidil Aqsa di Yerusalem. Di masjid itu pula terdapat makam Rasulullah SAW beserta para sahabatnya.

Awalnya, Masjd Nabawi hanya berukuran 30 x 35 meter. Namun, pada tahun 708 M, Gubernur Madinah, Umar bin Abdul Aziz memperluas bangunan masjid itu. Pada masa itu pula, mihrab mulai dibangun dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Masjid Nabawi. Dalam perkembangannya, saat ini terdapat enam mihrab di masjid Rasul itu.

Mihrab pertama yakni, mihrab Nabi SAW yang terletak di bagian Raudah —- antara mimbar dan makam Rasulullah. Yang kedua adalah mihrab Usmani. Ketiga, mihrab Hanafi —- sekarang mihrab Sulaimani yang dibangun Togan Syekh sesudah tahun 860 H. Mihrab ini dihiasi marmer putih dan hitam oleh Sulaiman I dari Kerajaan Ottoman pada 938 H.

Keempat, mihrab Tahajud —- terletak di belakang bekas kamar Fatimah Az-Zahra. Kelima, mihrab Fatimah yang terletak disebelah mihrab tahajud. Keenam adalah mihrab tarawih, yang sering digunakan imam Masjid Madinah saat memimpin shalat.

(heri ruslan)

Perbaharui terakhir ( Selasa, 26 Pebruari 2008 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

Radio Online


Copyright vEsti24

Buka Formulir






Anda lupa Kata sandi ?
Belum terdaftar ? Pendaftaran